my desire

malam itu, selepas sholat isya berjamaah. kami keluar dari kamar menyusuri jalan setapak menuju suatu lapangan hijau yang disulap menjadi tempat makan. diterangi oleh cahaya obor, makanan yang tersaji dan tertata rapih, pelayan yang ramah, serta dilengkapi dengan iringan musik kecapi suling. kalau saya tidak salah tebak, judulnya “rasa duaan”.
malam itu, memang diatur sedemikian rupa agar suasana menjadi berbeda. pengaturan cahaya, tempat menyajikan makanan, tempat kami duduk, tempat kecapi dan suling dialunkan. dari jauh, tempat kami bermalam, alunan sayup – sayup suara kecapi suling pun sudah terdengar.
malam itu, saya sengaja memilih tempat dekat dengan sumber suara kecapi dan suling yang teralun merdu. sesaat kami duduk, saya menatap wajahnya. terpaku. terkesima. terpana. alunan kecapi suling yang secara jelas terdengar, menggetarkan jiwa. saya menikmatinya, walau tidak begitu mengerti dengan musiknya. malam itu, saya bergumam “subahallah… cantik sekali istri ku”. semakin lama saya menatapnya, tiba – tiba air mata mengalir sedikit demi sedikit. sampai akhirnya, dia menawarkan minuman hangat sebagai pengalih rasa grogi padanya.
malam itu, saya coba pejamkan mata sejenak sambil kembali meresapi alunan musiknya. sesaat saya buka mata, saya alihkan pandangan ke pemain kecapi suling. argh….. salah satu dari mereka terlihat sedih dan seperti yang sedang menangis. pikir saya saat itu, bapak pemain kecapi sedang teringat sesuatu.
malam itu, rasa duaan. walau pada nyatanya, kami tidak berdua. kami merasa malam itu milik kami, tempat indah itu milik kami, suasana itu milik kami, rahmat dan nikmat itu milik kami.