seingat gue, kali pertama gue naik metromini adalah dulu waktu ke rumah nenek di daerah johar. kurang tahu pasti lewat mana, dan ke arah mana, yang gue ingat gue pernah naik metromini ke rumah nenek dan sopirnya ugal – ugalan dalam mengendarai metromini.

dulu dan sekarang, ugal – ugalan sepertinya sudah menjadi aliran darah yang mengalir bagi para supir metromini. yeah rite, generalisasi :mrgreen: dan gue yakin, lebih dari 68% dari yang baca tulisan ini pasti setuju kalau mereka, supir metromini -red, cenderung ugal – ugalan dalam mengendarai metromini.

ketika gue mengendarai sepeda motor (atau mobil),  salah satu hal yang paling gue benci adalah berpapasan (bertemu) dengan metromini. berhenti di sembarang tempat sesuka hati, hitamnya asap knalpot, menyerobot jalur, dan masih banyak lagi hal yang membuat gue benci dengan metromini.  sialnya, hampir seluruh jalanan di ibu kota jakarta adalah jalur yang dilalui oleh metromini.

maklum bos… kejar setoran”. ok, baiklah. tapi apakah bisa maklum juga dengan kesehatan, dan keselamatan pengguna lalu lintas lainnya? sempat terpikir, jika gue punya kewenangan mengatur (memperbaiki) tata kota dan transportasi, yang pertama gue akan lakukan adalah menghilangkan metromini dan menggantinya dengan yang jauh lebih baik. meniru ’suksesnya’ bang yos dengan konsep bus waynya mungkin :mrgreen:

sudah beberapa hari ini (mungkin sampai beberapa pekan ke depan), gue menjadi penumpang metromini lagi. apa yang gue rasakan? entahlah, nyaman? jauh dari rasa nyaman. ngeri? iya jika melihat bagaimana sopir metromini menyetir.